Minggu, 05 Mei 2013


Tugas Softskill Akuntansi Internasional

Nama         : Bayu Setianto
NPM          : 20209506
Kelas         : 4EB15

Masih mungkinkah pembangunan dari bawah?

Pembangunan sering dianggap sebagai suatu obat terhadap berbagai macam masalah yang muncul dalam masyarakat, terutama pada negara-negara yang sedang berkembang. Era awal dari teori pembangunan adalah dikemukakannya teori pertumbuhan. Pemikiran mengenai teori pertumbuhan berasal dari pandangan kaum ekonom ortodoks yang melihat pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya diasumsikan akan meningkatkan standar kehidupan (Clark, 1991:10).  Pada umumnya mereka menggunakan GNP (Gross National Product) sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Akan tetapi, bila diperhatikan lebih jauh, ternyata pertumbuhan yang ada ternyata tidak  bermakna bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Pada beberapa kasus negara berkembang, pertumbuhan GNP ternyata tidak selalu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Pembangunan yang terjadi di negara berkembang, khususnya Indonesia memang tidak bisa dilepaskan pada konteks global, karena bagaimanapun konstalasi global membawa pengaruh pada sistim politik dan ekonomi Indonesia. Untuk mengantarkan memudahkan memahami seting kondisi perubahan dari pembangunan ekonomi kearah pembangunan sosial di ndonesia, pembahasan harus dimulai dari pembangunan dimensi global, khusunya perubahan pendekatan pembangunan dalam dimensi makro, yang meliputi 5 (lima) pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan pertumbuhan yang identik dengan pemikiran Rostow, (2) pendekatan pertumbuhan yang identik dengan pemikiran Adelman dan Morris, (3) Paradigma ketergantungan yang dipelopori oleh Cardoso, (4) pendekatan Tata Ekonomi Internasional Baru (TEIB) sebagai hasil studi Club Of Rome, dan (5) Pendekatan kebutuhan pokok yang dikembangkan oleh Barichole Foundation.
Dalam kaitannya perubahan ekonomi global dan perubahan pendekatan pembangunan ekonomi di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari pendekatan pertumbuhan Rostow, karena pada dasarnya Indonesia sudah melewati tahapan masyarakat tradisional, tahap transisi, dan terhenti pada masa tinggal landas. Sumawinata dalam Buku Perubahan Sosial dan Pembangunan Indonesia, membahas mengenai kondisi lepas landas Indonesia.
Sumawinata menganalisis lepas landas Indonesia menggunakan analisis situasi ekonomi Indonesia. Secara ringkas terdapat tiga syarat mutlak menurut Rostow yang harus dipenuhi: Pertama, untuk mencapai lepas landas ekonomi, negara memerlukan tingkat investasi  produktif paling tidak sebesar 10% dari pendapatan nasional. Kedua, pertumbuhan yang tinggi atas satu cabang atau lebih cabang industri yang sentral. Ketiga, tumbuh dan berkembangnya kerangka sosial politik yang mampu meyerap dinamika perubahan masyarakat. (Sumawinata, 1991)
Menurut  Sumawinata, pembahasan persoalan lepas landas, Indonesia lebih memperhatikan pada syarat pertama, dibanding kedua syarat terakhir. Paradoksnya, dengan mendasarkan diri pada sejarah perkembangan ekonomi Indonesia justru dua syarat terakhir jauh lebih penting. Karena pada saat terjadi lepas landas ekonomi, masyarakat mengalami plintiran-plintirantekukan-tekukan, sementara saat yang sama bangunan struktur penyangga masih dalam proses untuk dibangun.
Selain itu Sumawinata menilai bahwa pembangunan pranata sosial dan politik, nampaknya tidak diarahkan pada pembangunan prakondisi yang diperlukan untuk menyongsong masa lepas landas. Sekalipun secara formal terjadi perubahan-perubahan dalam masalah sosial politik, tapi secara esensial dan substansial yang terjadi adalah perubahan marginal saja. Perubahan-perubahan struktur politik dan budaya secara lebih nyata dan mendasar tidak dapat dielakkan karena diperlukan untuk menyanggah dan menyerap secara kreatif ketegangan-ketegangan politik dan budaya yang muncul pada masa percepatan industrialisasi. (Sumawinata, 1991)
Pada akhirnya sebagaimana dikemukakan Sumawinata, kondisi lepas landas Indonesia mengalami kegagalan disebabkan tidak turut disesuaikannya perubahan struktur politik dan budaya, sehingga kondisi hutang Indnesia yang besar akibat pinjaman modal investasi, kegagalan ekonomi berfokus pada pertumbuhan, menjadi klimaks krisis Indonesia terlebih kondisi politik dan budaya yang masih rapuh, sebagai simbol kegagalan ekonomi Indonesia adalah pada krisis moneter pada tahun 1998, yang menstimulasi krisis politik dan sosial.
Pembangunan dari Bawah (Bottom up)
Dalam konteks kekinian, perubahan paradigma pembangunan mengarah pada satu paradigma baru yaitu “Pembangunan Berkelanjutan”. Pembangunan berkelanjutan tidak sekedar pembangunan pada aspek ekonomi dengan pengarustamaan pembangunan sosial, juga mulai dikembangkan konsep pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development), juga pembangunan yang berpusat pada lingkungan.
Salah satu indikator dari pembangunan berkelanjutan adalah dalam mengkonstruksikan pembangunan tidak lagi bersifat top down atau semua program ditentukan oleh pemerintah pusat dan tinggal diimplementasikan di bawah, melainkan pembangunan yang diinisiasi dari bawah berdasarkan kebutuhan, harapan dan partisipasi masyarakat atau lebih dikenal bottom up.
Dilihat dari fenomena saat ini, hal yang tidak diperkirakan namun terjadi adalah perubahan struktur pada masyarakat level bawah (desa), korupsi yang menggejala terjadi tidak hanya pada tingkat pusat bahkan sudah sampai desa, rusaknya sosial kapital dengan indikator antar saling mencurigai antar tetangga, antar masyarakat dengan aparat desa, dengan tokoh adat, hingga tokoh dengan tokoh agama. Mengaca pada kenyataan tersebut, apakah pembangunan dari bawah masih relevan dilakukan?.
Pada masanya dan mungkin sampai dengan saat ini, bottom up merupakan jawaban atas kesenjangan pembangunan yang terjadi selama puluhan tahun, namun demikian penyakit kronis ketidak saling percayaan antar masyarakat semakin besar akibat dari kegagalan pembangunan dari bawah berpola coba-coba itu sendiri. Sebagai ilustrasi terdapat beberapa contoh kerusakan dalam struktur masyarakat akibat program atau intervensi pemerintah, perusahaan maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
1.      Pemerintah menginisisasi pola bottom up setengah matang, melalui program-program berbasis masyarakat, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), PNPM dengan segala turunan dan bidang, yang dalam konteks kenyataannya BLT mengakibatkan konflik antar rumah tangga, antara masyarakat dengan aparat desa. PNPM mengakibatkan masyarakat tahu akan ‘uang’ dan ‘project’, munculnya rasa saling mencurigai antara pengelola program dengan masyarakat, hingga dalam level desa aparat kesulitan menggerakan gotong royong, dikarenakan masyarakat mulai memaknai apapun aktivitas dengan bayaran.
2.      Perusahaan dengan mengatasnamakan program Cororate Social Responsibility (CSR) yang salah kaprah telah menjadikan masyarakat lokal baik di wilayah kota hingga di pedalaman menjadi ketergantungan (dependent) terhadap perusahaan, karena bantuan yang sifatnya charity yang diberikan. Masyarakat Indonesia yang pada dasarnya memiliki sifat berdikari, malu meminta-minta telah kehilangan jati dirinya akibat pemberian bantuan yang sifatnya transaksional. Perusahaan berada dalam satu komunitas bukan membangun SDM tapi malah menjatuhkan jati diri masyarakat dengan program transaksional, bujuk rayu agar mendapatkan resource, dan setelah tujuan tercapai, masyarakat dalam kondisi dependent ditinggalkan. Padahal dampak ketergantungan pada satu sumber sifatnya jangka panjang.
3.      Tidak jarang keberadaan LSM malah menjadikan masyarakat terkotak-kotak, membelah masyarakat yang pada mulanya guyub, mengatasnamakan kepentingan masyarakat yang sebenarnya adalah realisasi dari hidden agenda LSM itu sendiri atas pesanan pihak lain. Terkadang LSM datang dengan alasan mengadvokasi, namun nilai yang diperjuangkan adalah nilai global yang sama sekali tidak berdampak lokal. LSM tidak pernah bertanggungjawab terhadap perpecahan yang terjadi dalam masyarakat akibat tindakan atas nama advokasi, jika project selesai, LSM tinggal melenggang dalam masyarakat yang menaruh luka antar mereka. Masyarakat dijadikan kritis dalam konteks instan, sehingga menjadi kritis yang tidak konstruktif dan proporsional. Hal yang saat ini terjadi adalah masyarakat dijadikan tameng akan perbaikan lingkungan mengatasnamakan paru-paru dunia, namun dalam kenyataannya masyarakat kehilangan sumber ekonomi dan tidak pernah diberikan alternatif perbaikan dalam peningkatan kesejahteraan.
Saya tidak percaya apakah bottom up masih bisa dijadikan sebagai terobosan dalam pembangunan yang “mandeg”, toh masyarakat hingga struktur yang paling bawah pada dasarnya sudah rusak akibat intervensi multi pihak. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah adalah hal yang wajar walaupun menjadi ancaman, akan tetapi bagaimana jika ketidak saling percayaan hadir pada masyarakat pada level desa, akibat korupsi dalam komunal, akibat bantuan pemerintah, akibat transaksional perusahaan dan akibat advokasi LSM yang membelah masyarakat hingga level kampung, terlebih semakin lemahnya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh desa, tokoh agama, hingga tokoh adat. Masih mungkinkah pembangunan dari bawah? Atau harus ditemukan paradigma pembangunan baru?. Rasanya sulit jika pada level terbawah sudah acuh dan tidak percaya kepada siapapun.

Kesimpulan :
Pada umumnya GNP ( Gross National Product ) digunakan sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Akan tetapi, bila diperhatikan lebih jauh, ternyata pertumbuhan yang ada ternyata tidak  bermakna bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Pada beberapa kasus negara berkembang, pertumbuhan GNP ternyata tidak selalu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. Pembangunan dari bawah (Bottom Up) sepertinya dapat dikatakan tidak relevan lagi untuk dilakukan, mengingat bahwa dengan adanya pembangunan Bottom Up tersebut justru menyebabkan terciptanya korupsi diantara perangkat-perangkat desa, timbulnya kesenjangan dan rasa saling ketidakpercayaan antar sesama tetangga, bahkan dapat menimbulkan konflik antar sesama warga. Dengan adanya wewenang / otorisasi upaya pembangunan di daerah masing-masing menyebabkan struktur pada masyarakat level bawah (desa) mengalami perubahan akibat program atau intervensi pemerintah, perusahaan maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Solusi :
Untuk kedepannya pemerintah diharuskan mampu mencari solusi terobosan terbaru dalam perencanan pembangunan di Indonesia yang lebih merata sehingga GNP ( Gross National Product ) yang menjadi salah satu pedoman tingkat kesejahteraan masyarakat pada negara-negara berkembang khususnya Indonesia tidak menjadi teori semata, mungkin pemerintah bisa saja tetap menggunakan konsep Bottom Up namun dengan melakukan beberapa perubahan didalamnya.

Dampak Negatif :
Dengan adanya pembangunan Bottom Up dampak negatif yang terjadi diantaranya adalah :
  1. Program-program berbasis masyarakat, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), PNPM dengan segala turunan dan bidang yang diprogramkan oleh Pemerintah menyebabkan masyarakat yang menerimanya mengerti mengenai “uang” dan juga “project” yang artinya masyarakat mulai mengartikan segalanya dengan bayaran, terjadi konflik antar sesama warga atau antara warga dengan aparat yang diakibatkan pendistribusian BLT yang tidak merata.
  2. Perusahaan dengan mengatasnamakan program Cororate Social Responsibility (CSR) yang salah kaprah telah menjadikan masyarakat lokal baik di wilayah kota hingga di pedalaman menjadi ketergantungan (dependent) terhadap perusahaan, karena bantuan yang sifatnya charity yang diberikan. Dengan sifat ketergantungan inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi manja dan tidak mau berusaha daam memenuhi kehidupan perekonomiannya.
  3. Keberadaan LSM malah menjadikan masyarakat terkotak-kotak, membelah masyarakat yang pada mulanya guyub, mengatasnamakan kepentingan masyarakat yang sebenarnya adalah realisasi dari hidden agenda LSM itu sendiri atas pesanan pihak lain. Masyarakat dijadikan kritis dalam konteks instan, sehingga menjadi kritis yang tidak konstruktif dan proporsional. Pada akhirnya hanya menyebabkan konflik antar sesama warga.

Dampak Positif :
Kemungkinan bila pemerintah mampu melakukan terobosan terbaru tentang konsep pembangunan Bottom Up ini bukan tidak mungkin jika pemerataan pembangunan dan kesejahteraan akan tercapai.


Rahmatullah Rahmat, Masih mungkinkah pembangunan dari bawah?

Minggu, 07 April 2013


Tugas Softskill Akuntansi Internasional

Nama         : Bayu Setianto
NPM          : 20209506
Kelas         : 4EB15

KURS TRANSAKSI BANK INDONESIA
Per 31 January 2013

Mata Uang
Nilai
Kurs Jual
Kurs Beli
AUD
1.00
10165.08
10061.09
BND
1.00
7873.65
7794.83
CAD
1.00
9725.58
9627.86
CHF
1.00
10713.42
10597.41
CNY
1.00
1552.03
1536.75
DKK
1.00
1771.97
1754.19
EUR
1.00
13219.47
13088.30
GBP
1.00
15401.60
15247.97
HKD
1.00
1256.33
1243.80
JPY
100.00
10729.94
10621.90
KRW
1.00
8.96
8.87
KWD
1.00
34745.10
34280.64
MYR
1.00
3149.97
3115.92
NOK
1.00
1780.29
1760.76
NZD
1.00
8155.45
8068.37
PGK
1.00
4987.03
4496.90
PHP
1.00
239.81
237.33
SAR
1.00
2598.86
2573.13
SEK
1.00
1535.29
1519.21
SGD
1.00
7873.65
7794.83
THB
1.00
327.71
324.04
USD
1.00
9746.00
9650.00




Tugas Akuntansi Internasional
1.     Bapak Warsito mempunyai uang sebesar Rp. 400.000.000. Dia bermaksud membelikan mobil untuk anaknya dengan harga AUD 15.000, dan ingin membeli rumah adiknya dengan harga JPY 14.000. Kemudian Bapak Warsito membutuhkan dana untuk kuliah anaknya sebesar USD 5.000. Berapa jumlah uang Bapak Warsito yang tersisa?
Jawab :
Kurs Jual
AUD 15.000 = 15.000 * Rp. 10.165,08         = Rp. 152.476.200
JPY 14.000 = 14.000 * Rp. 10.729,94           = Rp. 150.219.160
USD 5.000 = 5.000 * Rp. 9.746                     = Rp.   48.730.000 +
                                                                           Rp. 351.425.360
Jumlah Uang yang tersisa = Rp. 400.000.000 – Rp. 351.425.360 = Rp. 48.574.640

2.      Rudi memiliki uang sebesar SGD 2.000, kemudian ia mendapat kiriman uang dari kakaknya sebesar KWD 55, dan dari pamannya sebesar THB 100.000. Lalu uang itu dibelanjakan olehnya sebesar Rp. 10.500.000. Berapa Rupiah uang Rudi sekarang?
Jawab :
Kurs Beli
SGD 2.000 * Rp. 7.794,83     = Rp. 15.589.660
KWD 55 * Rp. 34.280,64      = Rp.   1.885.435,2 
THB 100.000 * Rp. 324,04    = Rp. 32.404.000   +
Uang Rudi                               = Rp. 49.879.095,2
Sisanya = Rp. 49.879.095,2 – Rp.10.500.000 = Rp. 39.379.095,2

3.      Nona Amira mempunyai uang sebesar PHP 7.500, MYR 3.000, dan NOK 5.000, ia ingin membeli 2 buah mobil dengan masing-masing harga USD 3.500 dan CAD 1.000. Berapa Rupiah lagi yang harus dikumpulkan Nona Amira?
Jawab :
Kurs Beli
PHP 7.500 = 7.500 * Rp. 237,33        = Rp.   1.779.975
MYR 3.000 = 3.000 * Rp. 3.115,92   = Rp.   9.347.760
NOK 5.000 = 5.000 * Rp. 1.760,76   = Rp.   8.803.800 +
Uang Nona Amira                                = Rp. 19.931.535
Kurs Jual
USD 3.500 = 3.500 * Rp. 9.746,        = Rp. 34.111.000
CAD 1.000 = 1.000 * Rp. 9.725,58   = Rp.   9.725.580 +
                                                           = Rp. 43.836.580
Uang yang harus dikumpulkan Nona Amira = Rp. 43.836.580 – Rp. 19.931.535 = Rp. 23.905.045

4.      Megantara mempunyai uang sebesar USD 300.000, ia berniat menggunakan uang tersebut untuk membeli rumah dengan harga NZD 3.000, membuka usaha dengan modal MYR 30.000, dan menginvestasikan uangnya sebesar KWD 55.000. Berapa Rupiah sisa uang Megantara?
Jawab :
Kurs Beli
USD 300.000 = 300.000 * Rp.  9.650                        = Rp. 2.895.000.000
Kurs Jual
NZD 3.000 = 3.000 * Rp. 8.155,45                = Rp.      24.466.350
MYR 30.000 = 30.000 * Rp. 3.149,97           = Rp.      94.499.100
KWD 55.000 = 55.000 * Rp. 34.745,10        = Rp. 1.910.980.500 +
                                                                       = Rp. 2.029.945.950
Sisa uang Megantara = Rp. 2.895.000.000 – Rp. 2.029.945.950  = Rp. 865.054.050

5.      Bapak Pandu mengekspor sepatu dan kaos hasil produksi dari usahanya, sepatu dan kaos tersebut akan diekspor ke Negara-negara di Eropa. Dari hasil ekspor tersebut didapatkan uang sebesar EUR 10.500. Lalu Bapak Pandu datang ke bursa valas untuk menukarkannya. Berapa uang yang akan didapat Bapak Pandu bila ditukarkan ke Rupiah?
Jawab :
Kurs Beli
EUR 10.500 = 10.500 * Rp. 13.088,30 = Rp. 137.427.150

6.      Sepulang dari Amerika, Dono memiliki sisa uang sebanyak USD 10.000, kemudian ia datang ke Bursa Valas untuk menukarnya kembali dengan Rupiah, maka berapakah uang yang diperoleh Dono?
Jawab :
Kurs Beli
USD 10.000 = 10.000 * Rp. 9.650 = Rp. 96.500.000

7.      Tuan Antonov ingin pergi ke Thailand, ia mempunyai Rp. 49.156.500, maka ia harus menukarkan uangnya ke Bursa Valas, maka berapa THB yang diterima Tuan Antonov?
Jawab :
Kurs Jual
Rp. 49.156.500 : Rp. 327,71 = THB 150.000

8.      Nyonya Belworn mempunyai uang sebesar Rp 50.000.000. Berapakah uang yang ia terima jika ditukarkan dengan mata uang Euro dan Bath di Bursa Valas?
Jawab :
Kurs Jual
Euro = Rp 50.000.000 : Rp. 13.219,47 = EUR 3.782,3
Bath = Rp. 50.000.000 : Rp. 327,71 = THB 152.573,9

9.      Afandi Yusuf mempunyai uang sebesar GBP 40.000, PHP 1.000, dan SAR 3.000. Dia mendatangi bursa valas untuk menukarnya ke Rupiah. Setelah menukarkannya Afandi membeli sebuah apartemen seharga Rp.400.000.000. Berapa sisa uang Afandi Yusuf?
Jawab :
Kurs Beli
GBP 1.000 = 40.000 * Rp. 15.247,97        = Rp. 609.918.800
PHP 1.000 = 1.000 * Rp. 237,33               = Rp.       237.330
SAR 3.000 = 3.000 * Rp. 2.573,13            = Rp.     7.719.390 +
Uang Afandi                                                = Rp. 617.875.520
Sisa uang Afandi Yusuf adalah = Rp. 617.875.520 – Rp. 400.000.000 = Rp. 217.875.520

10.  Afandi memiliki uang sebesar Rp. 217.875.520, ia pergi ke Bursa Valas untuk menukarkannya ke dalam mata uang Poundsterling. Berapa GBP yang ia terima?
Jawab :
Kurs Jual
Rp. 217.875.520 : Rp. 15.401,60 = GBP 14.146,3

http://www.bi.go.id/biweb/Templates/Moneter/Default_Kurs_ID.aspx?NRMODE=Published&NRNODEGUID=%7b3CE4C8F3-8793-458B-BC5B-A7DC189EF644%7d&NRORIGINALURL=%2fweb%2fid%2fMoneter%2fKurs%2bBank%2bIndonesia%2fKurs%2bTransaksi%2f&NRCACHEHINT=Guest